Detail Berita

Rakor Penanganan Demam Berdarah (DBD)

18 January 2022 09:43 Admin Kecamatan Pungging Berita

Akhir-akhir ini banyak orang yang terkena penyakit yang ditularkan dari nyamuk seperti DBD, Cikungunya, dll. Memang sekarang ini masih musim penghujan dan banyak genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk.

Senin (17/1/2022) sore hari, pihak Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengadakan Rapat Koordinasi Demam Berdarah yang bertempatkan di Ruang Satya Bina Karya. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Mojokerto didampingi Sekdakab Mojokerto, Asisten 1, Asisten 3, dan di ikuti OPD dan Camat se-Kabupaten Mojokerto. Tujuan rakor tersebut ialah untuk mencegah virus yang ditularkan oleh nyamuk tersebut.

Rakor di awali dari Dinas Kesehatan yang menjelaskan bahwa "Dinkes Kabupaten Mojokerto terus memantau lonjakan DBD. Per Januari, ada 70 kasus se-wilayah kecuali beberapa puskesmas utara sungai yakni Lespadangan, Kupang, juga Kedungsari. DBD juga harus kita antisipasi di wilayah dingin selatan sungai, meskipun karaker nyamuk pembawa tidak dapat bertahan di dataran tinggi. Walau angka kasus kecil, namun masih ada tercatat potensi kasus. Sehingga ini menandakan adanya ancaman pergerakan atau migrasi nyamuk". 

Mulai minggu kemarin, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sudah dilakukan serentak. Fogging hampir setiap hari dilaksanakan. Bubuk abate juga dimaksimalkan untuk memberantas jentik atau larva nyamuk, dan sudah disebar ke puskesmas-puskesmas. Begitupun juga upaya preventif yang ditambahkan sebagai bentuk usaha pencegahan. 

Kemampuan lab puskesmas kita cukup lengkap, baik cek darah komplit maupun kimia klinik. Ini adalah usaha deteksi awal sejak dini. Puskesmas sudah diarahkan, agar tidak ragu memeriksa. Angka kematian saat ini 0, dan harus dijaga agar jangan sampai terjadi. Kelompok kerja operasional (pokjanal) DBD rencananya akan diaktifkan kembali. 

Fogging awalnya diprioritaskan untuk temuan kasus saja. Karena bahan fogging ini adalah bahan aktif yang cukup berbahaya yakni insektisida dicampur minyak. Formula ini menghasilkan residu, terutama jika terhirup paru-paru. Selama ini kita fogging dengan jangkauan 100 meter atau 10 rumah. Namun di lapangan, kita melebar. Jadi meski ada satu kasus, kita melakukan fogging hingga satu RT. Intinya menyesuaikan kondisi lapangan.

RSUD Prof. dr. Soekandar juga memberi laporan bahwa "Kami sudah koordinasi. Untuk bulan ini ada peningkatan. Tahun 2022 sampai 17 Januari sore ini, ada 38 anak-anak dan satu dewasa. Tempat tidur anak di kami ada 24, dan sudah ditambah 4 lagi untuk bed ekstra. Jika kasus makin banyak, akan ditambah ruang lain. Terkait overload IGD dua minggu lalu, itu terjadi karena banyak pasien demam. Itu menjadi masalah. Sampai ramai di medsos bahwa kami menolak. Padahal kenyataan di lapangan, yang terjadi adalah karena overload. Per hari ini, ada 17 anak dan satu dewasa yang dirawat. Kalau ditotal, menjadi 38 orang seperti yang disebutkan tadi". 

Dan laporan dari semua wilayah antara lain menjelasakan bahwa :

  • Sooko
    Di Sooko, terbaru berasal dari daerah Jampirogo yakni satu pasien. Langkah penanganan sudah dilakukan yakni tiap hari fogging, 3M dan menggerakkan kader jumantik. Sudah hampir 10 desa yg difogging. Untuk data jumlah, masih menunggu. 
  • Trowulan
    Dari Puskesmas Trowulan ada 3 kasus yang sedang ditangani. Fogging juga dilakukan oleh
    Puskesmas Tawangsari, Watesumpak dan  Wonorejo. 
  • Mojosari
    Ada kasus gejala DBD terpantau di Belahantengah. Saya minta koordinasi. 
  • Pacet
    Kader Jumantik kita aktifkan dengan anggaran desa. Merka juga diberikan sejumlah instenstif. Upaya fogging, dan langkah mitigasi berupa bersih-bersih lingkungan terus digencarkan. Saat ini masih ada 2 kasus yang dipantau. 
  • Trawas
    Sekitar dua minggu lalu, ada laporan dari Desa Duyung bahwa hampir satu RT bahkan dua RT, melaporkan warga bergejala DBD (demam dan seperti chikungunya). Pak kades Duyung minta langsung difogging, namun saya jelaskan bahwa harus ada ketentuan. Akhirnya tim puskesmas turun, dan menemukan bahwa ada pengepul rongsokan di sekitar situ. Akhirnya warga melakukan kerja bakti, dan beruntungya laporan gejala yang diterima dinyatakan bukan DBD. 
  • Jetis
    Ada kasus di Perning, yang memicu ketakutan warga. Kenapa? Karena setelah temuan itu, disusul kasus baru lagi. Otomatis masyarakat minta dilakukan fogging. Namun karena ada tata cara, kami sosialisasikan dulu dengan kader-kader dan warga. Kami selanjutnya melaksanakan rapat denga desa, dan menjalankan bersih-bersih lokasi yang dicurigai jadi sarang nyamuk. Untuk di Jetis lebih tepatnya di 4 desa yakni Perning, Parengan, Banjarsari dan Jolotundo. 
  • Jatirejo
    Informasi terbaru, Puskesmas Jatirejo ada lima pasien dari 4 lokasi sebaran. Upaya yang sudah kita lakukan adalah memberantas sarang nyamuk secara masif. 
  • Ngoro
    Berdasar laporan kejadian sejak Desember, di Desa Jasem ada laporan 17 orang kasus chikungnya, Kembangsri, Kutogirang, dan hari ini DBD di Manduro MG sebanyak 2 orang. 
  • Kemlagi
    Untuk UPT Puskesmas Kedungsari nihil. Tapi kami tetap melalukan fogging. Karena 20 desa, punya alat fogging sendiri. 
  • Mojoanyar
    Ada dua kasus yakni dari Tambakrejo dan Sadartengah, yang menyerang anak umur 12 tahun. Keduanya kini ada di RSUD Sidowaras. Kami sudah fogging dsb. Untuk satu kasus lagi, akan kami telusuri. 
  • Puri
    Kami menemukan ada perbedaan data. Di data kami ada 8 orang. Banjaragung ada permintaan warga untuk fogging, dan sudah dilaksanakan. Tanggal 22 akan dilaksanakan lagi fogging. 
  • Gedeg
    Kasus DBD di Gedeg tadi siang, sudah sembuh di Pagerluyung. PSN dan fogging akan lanju, begitu juga dengan pemaksimalan kader jumantik. Kita sudah koordinasi dengan kades untuk PSN sama-sama. 
  • Bangsal
    Ada 7 kasus, 5 belum sembuh. DBD kenannya di Januari. 
  • Dawarblandong
    Ada perbedaan data. Kalau seminggu lalu, ada 5 kasus. Tapi saat itu diduga chikunganya. Namun per hari ini, dinyatakan positif DBD. kami sudah umumkan untuk PSN. 
  • Kutorejo
    Datanya sama. Alhamdulillah dilaksanakan fogging, baik puskesmas maupun fogging mandiri. Untuk pencegahan, sudah kami sampaikan gerakan PSN dan 3M.
  • Pungging
    Masalah saat ini yang kami rasakan, adalah desa tidak diberi kewenangan fogging. Apakah fogging tidak bisa dilakukan oleh desa sendiri? Untuk alat dan insektisidanya siap. Tinggal kewenangan saja. Mohon agar dicarikan solusi. 
  • Gondang
    Dari data, ada 1 pasien asal Pugeran. Hasil periksanya, positif DBD. Beberapa waktu lalu, Pak Camat Dawarblandong mengabarkan ke saya bahwa kerabat beliau di Wonoploso terkena chikungunya. Ketika ada peristiwa, harus dipastikan hasil labnya positif. Lalu desa disuruh buat surat ke RS. Karena puskesmas tidak punya alat fogging. Ini birkorasinya terlalu panjang. Juga ada anggapan kalau difogging nyamuk tambah berhamburan dan menyebar. Ini perlu diluruskan. 
  • Dlanggu
    Ada 3 kasus di wilayah kami. Namun per Januari ini tidak ada kasus. Untuk desa-desa lain sudah diberi jadwal PSN.

 

Pihak Dinkes juga mengatakan bahwa Terkait data, memang fluktuatif. Kadang masuk puskesmas tapi belum masuk data dinkes. Sehingga akumulasinya ada perbedaan. Kadang ada yang masih suspek, tapi sudah dimasukkan data. PSN sudah serentak dilaksanakan. Untuk problem fogging, kami sempat terpikir untuk kondisi tertentu. Nah bagaimana kalu desa sudah siap fogging mandiri? Tentu harus ada supervisi. Karea aturan fogging itu takarannya harus pas, maupun treatment-treatment penyerta yang harus dijalankan. 

Arahan Bupati Mojokerto (Ikfina Fahmawati)

Ada korban meninggal, dan ini jadi perhatian. Yang bahaya adalah Demam Dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF). Namun yang paling berbahaya adalah DSS atau Dengue Shock Syndrome. Ini adalah komplikasi infeksi demam berdarah dengue (DBD) yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. DSS juga dikenal dengan istilah dengue hemorrhagic fever (DHF).

Nyamuk aydes aygepti tidak dapat bertahan di dataran tinggi. Lalu kenapa marak di musim hujan? Karena larva nyamuk ini hanya hidup di air bersih. Saat musim hujan, banyak genangan air bersih. Telur nyamuk terendam air selama 2 hari, setelah itu bisa sudah menetas dan 7 hari sudah terbang. Nyamuk ini utamanya aktif pukul 09.00-10.00 dan 16.00-17.00 dimana anak-anak kita sedang belajar. DHF banyak meneyerang usia anak. Kita tidak mau sampai DSS. DSS hanya bisa diatasi di fasyankes. Maka jangan sampai telat. Dari demam, turun, demam lagi. Ini juatru tanda bahaya, atau disebut sampai fase shock. Saya akan buat video edukasi DHF. 

PSN adalah hal yang utama dan tidak bisa dilakukan sekali. Nyamuk ini bisa hidup selama 3 bulan dan terus bertelur. Jangan sampai populasinya overload. 

Untuk fogging, saya setuju puskesmas yang melaksanakan. Karena ini seperti dua sisi mata  pedang. Di satu sisi semua jenis nyamuk pasti mati. Di sisi lain, insektisidanya sangat keras sehingga akan mengganggu ekosistem. Dan paling bahaya adalah karena jika terhirup, dapat masuk di darah. 

Fogging ini ada hitungannya. Nyamuk aydes aygepti bisa terbang 40 meter. Maka dosisnya ada hitungannya. Butuh informasi yg cepat terkait kasus positif. Tidak pakai menunggu. Segera bawa ke fasyankes. Nyamuk aydes aygepti suka hidup di tempat lembap dan gelap salah satunya baju yang digantung. Ini harus jadi kewaspadaan kita semua. 

 

Setelah dilakukan Rakor tersebut Asisten 1 menyimpulkan bahwa :

1. Untuk pencegahan, PSN adalah yang utama. Karena insektisida kalau terhirup, bisa tinggal di hemoglobin. Maka yang efektif tetap PSN. Kalau campuran insektisida tidak pas, nyamuk sasaran malah akan resisten atau kebal.

2. Penanganan pasien bergejala tidak boleh terlambat.

3. Jika menemukan gejala-gejala penyakit tersebut, segera hubungi 081231280707 nomor Tim Reaksi Cepat.